Sabtu, 15 Januari 2022

Angka Bebas Jentik (ABJ)

Kelompok 3 SIK
Wilistiawati Sanjaya
Annisa Haryani Putri
Erhan Hardiana

ANGKA BEBAS JENTIK

Nyamuk merupakan hewan dari kingdom animalia dengan filum anthropoda, yang paling mendominasi dengan perkiraan spesiesnya sebanyak 80% dari spesies hewan lainnya. Beberapa genus nyamuk yang terkenal di Indonesia diantaranya : Aedes, Anopheles, Culex dan Mansonia.

Habitat dari Aedes aegypti sering ditemukan pada luar rumah, di air jenih pada bak mandi, ban bekas, tempat penampungan air tanpa tutup, gentong, vas bunga, drum, lubang pohon serta pelepah daun. Adapun penyakit yang ditularkan oleh nyamuk jenis Aedes aegypti ini yaitu Demam Berdarah Dengue, Filariasis Wuchereria bancrofti, Chikungunya, Zika serta Yellow fever.

Salah satu penyakit yang bersumber dari binatang (zoonosis) ialah DBD (demam berdarah dengue). Penyakit ini merupakan penyakit yang cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya terutama ketika musim hujan sekitar bulan Januari. DBD (Demam Berdarah Dengue) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue ditularkan oleh nyamuk betina Aedes aegypti serta Aedes albopictus yang biasanya penyakit ini tersebar luas diseluruh daerah tropis disebabkan beberapa faktor seperti curah hujan, suhu dan urbanisasi yang tidak terencana.

Penyakit DBD adalah penyakit yang dapat muncul sepanjang tahun dan dapat menyerang seluruh kelompok usia. Penyakit ini berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat (Profil Kesehatan Indonesia, 2014).

Diantara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah kebiasaan memberantas jentik di rumah. Ini adalah kebiasaan yang baik mengingat keberadaan penyakit seperti DBD dan malaria sangat dipengaruhi keberadaan jentik yang ada di rumah.. Demam Berdarah Dengue adalah demam yang berlangsung akut menyerang  orang dewasa maupun anak-anak. Demam berdarah selalu dihubungkan dengan angka bebas jentik (ABJ). Angka bebas jentik (ABJ) adalah presentasi rumah atau tempat-tempat umum yang tidak ditemukan jentik. Rumus/ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jenyik Aedes aegypti

ABJ= (jumlah rumah negatif jentik)/(jumlah rumah yang diperiksa) x 100%

Angka Bebas Jentik (ABJ) adalah persentase rumah yang tidak ditemui jentik, merupakan indikator yang lebih banyak digunakan secara nasional (target ABJ ≥ 95%) (Joharina, 2014).

Menurut data Ditjen P2P kemenkes RI (2020) bahwa pada tahun 2010 persentase angka bebas jentik berada di urutan paling tertinggi, data sesuai dengan tabel dan grafik sebagai berikut :

Tabel 1 Angka Bebas Jentik di Indonesia Tahun 2010 - 2019

No.

Tahun

ABJ

1

2010

80.2

2

2011

76.2

3

2012

79.3

4

2013

80

5

2014

24.1

6

2015

54.2

7

2016

67.6

8

2017

46.7

9

2018

31.5

10

2019

79.2

 

Grafik Angka Bebas Jentik di Indonesia Tahun 2010  - 2019

 


Sumber : Ditjen P2P Kemenkes RI, 2020

ABJ mencerminkan seberapa besar kepadatan nyamuk Aedes aegypti di suatu wilayah, ABJ rendah mengakibatkan warga di wilayah tersebut berisiko tinggi terkena DBD. Oleh sebab itu upaya PSN dan penyuluhan perlu disempurnakan dengan gerakan yang mengikutsertakan masyarakat didalamnya secara langsung dalam menanggulangi kasus DBD yang terjadi.

Pemeriksaan jentik merupakan pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang dilakukan secara teratur oleh petugas kesehatan atau kader atau petugas pemantau jentik (jumantik). Tujuan pemeriksaan jentik adalah untuk melakukan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD dan memotivasi keluarga dan masyarakat dalam melaksanakan PSN DBD. Dengan kunjungan yang berulang-ulang disertai penyuluhan diharapkan masyarakat dapat melakukan PSN DBD secara teratur dan terus-menerus (Depkes RI, 2010: 2).

Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) bisa dengan cara 3M plus (Menguras, Menutup, Mengubur, Plus menghindari gigitan nyamuk) yaitu :

  1. Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, tatakan kulkas, tatakan pot kembang dan tempat air minum burung.
  2. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti lubang bak kontrol, lubang pohon, lekukan-lekukan yang dapat menampung air hujan.
  3. Mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air seperti ban bekas, kaleng bekas, plastik-plastik yang dibuang sembarangan (bekas botol/ gelas aqua, plastik, kresek, dll)
  4. Plus menghindari gigitan nyamuk seperti menggunakan kelambu ketika tidur, memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk, misalnya obat nyamuk, bakar, semprot, oles/diusap ke kulit dll.

Menurut Yulian Taviv (2010: 3) Pelaksanaan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) merupakan kegiatan yang paling berpengaruh terhadap keberadaan jentik nyamuk di tempat penampungan air karena berhubungan secara langsung. Jika seseorang melakukan praktik PSN dengan benar, maka keberadaan jentik nyamuk di tempat penampungan air dapat berkurang bahkan hilang. Seseorang melakukan praktik PSN DBD berarti telah melaksanakan praktik pencegahan (preventif) yang merupakan aspek dari perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance) dan pelaksanaan perilaku kesehatan lingkungan (Soekidjo Notoatmodjo dalam Mubarok dkk, 2013).

Gambaran seberapa besar potensi risiko yang ditimbulkan akibat tidak dipenuhinya target yang telah direncanakan. Sebagai contoh apabila Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan di suatu wilayah digambarkan memiliki ABJ kurang dari 95% maka wilayah kabupaten memiliki risiko terhadap penularan penyakit demam berdarah.  

Tabel 2      Analisis Pengamatan Nyamuk Aedes aegypti dalam Rangka Pemantauan dan Evaluasi

Aksesibilitas

Kualitas Pengelolaan Program

Masalah

Dampak

100% wilayah kabupaten diamati 80% wilayahnya memiliki ABJ sebesar 90% dan 20% wilayah lain memiliki ABJ 95%.

Hanya 20% wilayah kabupaten yang memiliki ABJ 95%.

80% wilayahnya kabupaten tidak memenuhi standar ABJ.

80% wilayah kabupaten memiliki potensi risiko terhadap penularan penyakit demam berdarah.

 Berdasarkan contoh Tabel 2 diatas dalam konteks pemantauan pada wilayah kabupaten tersebut harus dilaporkan hal-hal sebagai berikut.

1.        Segera dilakukan upaya pengendalian terhadap kepadatan vektor penyakit demam berdarah dengan prioritas 80% wilayah kabupaten yang tidak memenuhi standar ABJ.

2.        Tetap dilakukan pengamatan terhadap 20% wilayah kabupaten yang telah memenuhi Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan bila perlu dilakukan upaya pengendalian untuk tetap mempertahankan standar baku mutu.

3.        Dilakukan penyelidikan bioekologi terhadap 80% wilayah kabupaten yang tidak memenuhi standar ABJ untuk mencegah atau mengurangi potensi risiko penularan penyakit demam berdarah (Permenkes No. 50 Tahun 2017).

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Bedah S, Hartandi N. 2019. Penentuan Angka Kepadatan (Density Figure) Dan Angka Bebas Jentik (Abj) Larva Aedes Aegypti Di Rw 02, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat. Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 5 No. 1 ; Maret 2019.

Kuwa Maria KR. 2021. Gambaran Presentasi Angka Bebas Jentik terhadap Kejadian Demam Berdarah di Kabupaten Sikka. Jurnal ilmiah permas, stikes Kendal.

Mubarokah R, Indarjo S. 2013. Upaya Peningkatan Angka Bebas Jentik (Abj) Dbd Melalui Penggerakan Jumantik. Unnes Journal of Public Health 2 (3) (2013)

Selvia. 2019. Gambaran Angka Bebas Jentik (Aedes Aegypti)  Rt.42 Di Kelurahan Mugirejo Kota Samarinda. Digital repository UMKT Kalimantan Timur

https://danurejan2pusk.jogjakota.go.id/detail/index/9915

https://rsud.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/memberantas-jentik-di-rumah-78

 


Angka Bebas Jentik (ABJ)

Kelompok 3 SIK Wilistiawati Sanjaya Annisa Haryani Putri Erhan Hardiana ANGKA BEBAS JENTIK Nyamuk merupakan hewan dari kingdom animalia deng...