ANGKA BEBAS JENTIK
Nyamuk
merupakan hewan dari kingdom animalia dengan filum anthropoda, yang paling
mendominasi dengan perkiraan spesiesnya sebanyak 80% dari spesies hewan
lainnya. Beberapa genus nyamuk yang terkenal di Indonesia diantaranya : Aedes,
Anopheles, Culex dan Mansonia.
Habitat
dari Aedes aegypti sering ditemukan pada luar rumah, di air jenih pada bak
mandi, ban bekas, tempat penampungan air tanpa tutup, gentong, vas bunga, drum,
lubang pohon serta pelepah daun. Adapun penyakit yang ditularkan oleh nyamuk
jenis Aedes aegypti ini yaitu Demam Berdarah Dengue, Filariasis Wuchereria
bancrofti, Chikungunya, Zika serta Yellow fever.
Salah
satu penyakit yang bersumber dari binatang (zoonosis) ialah DBD (demam berdarah
dengue). Penyakit ini merupakan penyakit yang cenderung mengalami peningkatan
setiap tahunnya terutama ketika musim hujan sekitar bulan Januari. DBD (Demam
Berdarah Dengue) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue
ditularkan oleh nyamuk betina Aedes aegypti serta Aedes albopictus yang
biasanya penyakit ini tersebar luas diseluruh daerah tropis disebabkan beberapa
faktor seperti curah hujan, suhu dan urbanisasi yang tidak terencana.
Penyakit
DBD adalah penyakit yang dapat muncul sepanjang tahun dan dapat menyerang
seluruh kelompok usia. Penyakit ini berkaitan dengan kondisi lingkungan dan
perilaku masyarakat (Profil Kesehatan Indonesia, 2014).
Diantara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
adalah kebiasaan memberantas jentik di rumah. Ini adalah kebiasaan yang
baik mengingat keberadaan penyakit seperti DBD dan malaria sangat dipengaruhi
keberadaan jentik yang ada di rumah.. Demam Berdarah Dengue adalah demam yang
berlangsung akut menyerang orang dewasa maupun anak-anak. Demam berdarah
selalu dihubungkan dengan angka bebas jentik (ABJ). Angka bebas jentik (ABJ)
adalah presentasi rumah atau tempat-tempat umum yang tidak ditemukan jentik.
Rumus/ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jenyik Aedes aegypti
ABJ= (jumlah rumah negatif jentik)/(jumlah rumah yang diperiksa) x 100%
Angka
Bebas Jentik (ABJ) adalah persentase rumah yang tidak ditemui jentik, merupakan
indikator yang lebih banyak digunakan secara nasional (target ABJ ≥ 95%)
(Joharina, 2014).
Menurut data Ditjen P2P kemenkes RI (2020) bahwa pada tahun
2010 persentase angka bebas jentik berada di urutan paling tertinggi, data
sesuai dengan tabel dan grafik sebagai berikut :
|
Tabel 1 Angka Bebas Jentik di Indonesia Tahun 2010 - 2019 |
||
|
No. |
Tahun |
ABJ |
|
1 |
2010 |
80.2 |
|
2 |
2011 |
76.2 |
|
3 |
2012 |
79.3 |
|
4 |
2013 |
80 |
|
5 |
2014 |
24.1 |
|
6 |
2015 |
54.2 |
|
7 |
2016 |
67.6 |
|
8 |
2017 |
46.7 |
|
9 |
2018 |
31.5 |
|
10 |
2019 |
79.2 |
Grafik
Angka Bebas Jentik di Indonesia Tahun 2010
- 2019
ABJ mencerminkan seberapa besar kepadatan nyamuk Aedes
aegypti di suatu wilayah, ABJ rendah mengakibatkan warga di wilayah tersebut
berisiko tinggi terkena DBD. Oleh sebab itu upaya PSN dan
penyuluhan perlu disempurnakan dengan gerakan yang mengikutsertakan masyarakat
didalamnya secara langsung dalam menanggulangi kasus DBD yang terjadi.
Pemeriksaan jentik merupakan pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang dilakukan secara teratur oleh petugas kesehatan atau kader atau petugas pemantau jentik (jumantik). Tujuan pemeriksaan jentik adalah untuk melakukan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD dan memotivasi keluarga dan masyarakat dalam melaksanakan PSN DBD. Dengan kunjungan yang berulang-ulang disertai penyuluhan diharapkan masyarakat dapat melakukan PSN DBD secara teratur dan terus-menerus (Depkes RI, 2010: 2).
Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) bisa dengan cara 3M plus (Menguras, Menutup, Mengubur, Plus menghindari gigitan nyamuk) yaitu :
- Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, tatakan kulkas, tatakan pot kembang dan tempat air minum burung.
- Menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti lubang bak kontrol, lubang pohon, lekukan-lekukan yang dapat menampung air hujan.
- Mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air seperti ban bekas, kaleng bekas, plastik-plastik yang dibuang sembarangan (bekas botol/ gelas aqua, plastik, kresek, dll)
- Plus menghindari gigitan nyamuk seperti menggunakan kelambu ketika tidur, memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk, misalnya obat nyamuk, bakar, semprot, oles/diusap ke kulit dll.
Menurut
Yulian Taviv (2010: 3) Pelaksanaan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
merupakan kegiatan yang paling berpengaruh terhadap keberadaan jentik nyamuk di
tempat penampungan air karena berhubungan secara langsung. Jika seseorang melakukan
praktik PSN dengan benar, maka keberadaan jentik nyamuk di tempat penampungan
air dapat berkurang bahkan hilang. Seseorang melakukan praktik PSN DBD berarti
telah melaksanakan praktik pencegahan (preventif) yang merupakan aspek dari
perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance) dan pelaksanaan perilaku
kesehatan lingkungan (Soekidjo Notoatmodjo dalam Mubarok dkk, 2013).
Gambaran
seberapa besar potensi risiko yang ditimbulkan akibat tidak dipenuhinya target
yang telah direncanakan. Sebagai contoh apabila Standar Baku Mutu Kesehatan
Lingkungan di suatu wilayah digambarkan memiliki ABJ kurang dari 95% maka
wilayah kabupaten memiliki risiko terhadap penularan penyakit demam
berdarah.
|
Tabel 2 Analisis Pengamatan Nyamuk Aedes aegypti dalam Rangka Pemantauan dan Evaluasi |
|||
|
Aksesibilitas |
Kualitas Pengelolaan Program |
Masalah |
Dampak |
|
100%
wilayah kabupaten diamati 80% wilayahnya memiliki ABJ sebesar 90% dan 20%
wilayah lain memiliki ABJ 95%. |
Hanya
20% wilayah kabupaten yang memiliki ABJ 95%. |
80% wilayahnya
kabupaten tidak memenuhi standar ABJ. |
80%
wilayah kabupaten memiliki potensi risiko terhadap penularan penyakit demam
berdarah. |
1.
Segera dilakukan upaya pengendalian terhadap
kepadatan vektor penyakit demam berdarah dengan prioritas 80% wilayah kabupaten
yang tidak memenuhi standar ABJ.
2.
Tetap dilakukan pengamatan terhadap 20% wilayah
kabupaten yang telah memenuhi Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan bila
perlu dilakukan upaya pengendalian untuk tetap mempertahankan standar baku
mutu.
3.
Dilakukan penyelidikan bioekologi terhadap 80%
wilayah kabupaten yang tidak memenuhi standar ABJ untuk mencegah atau
mengurangi potensi risiko penularan penyakit demam berdarah (Permenkes
No. 50 Tahun 2017).
Daftar
Pustaka
Bedah S, Hartandi N. 2019. Penentuan Angka Kepadatan
(Density Figure) Dan Angka Bebas Jentik (Abj) Larva Aedes Aegypti Di Rw 02,
Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat. Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 5 No. 1 ; Maret 2019.
Kuwa Maria KR. 2021. Gambaran Presentasi Angka Bebas Jentik terhadap Kejadian Demam Berdarah
di Kabupaten Sikka. Jurnal ilmiah permas, stikes Kendal.
Mubarokah R, Indarjo S. 2013. Upaya Peningkatan Angka Bebas Jentik (Abj)
Dbd Melalui Penggerakan Jumantik. Unnes Journal of Public Health 2 (3)
(2013)
Selvia. 2019. Gambaran Angka Bebas Jentik (Aedes Aegypti) Rt.42 Di Kelurahan Mugirejo Kota Samarinda. Digital repository UMKT Kalimantan Timur
https://danurejan2pusk.jogjakota.go.id/detail/index/9915
https://rsud.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/memberantas-jentik-di-rumah-78

